Memorian Sebuah Kenyataan

Hari minggu pukul 4 sore! itulah kesepakatan yang sudah kami sepakati sebelumnya untuk rencana menginap di sebuah kamar kost 3*4,berjendela satu,dan terletak di lantai dua.Tepatnya di jalan Moch Toha.Di tempat itu lah kami akan menginap,karena tempatnya sangat dekat dengan tempat dimana kami menggali ilmu,itu pun di karenakan sebentar lagi adalah hari menjelang di selenggarakannya ujian nasional ,jadi kami putuskan untuk menginap di kamar kost 3*4 ini.

Hari ini hari Minggu,sudah pukul 4 sore pula,tetapi belum satu kepalapun yang muncul,hanya si pemilik kamar saja yang stay menunggu di kamar itu.Pasti berbagai alasan lah yang menjadi senjata beladiri bagi mereka.

Matahari sudah mulai terlihat lelah dan murung,seperti ingin tidur setelah seharian sibuk mengelilingi langit di negeri ini.Hingga pada akhirnya muncul lah dua sosok pemuda yang berjalan kaki.Keduanya sama-sama menggendong tas berisikan perbekalan hidup dan segala pendukungnya.Mereka terlihat sangat gembira dan tampan sekali.Tak lama kemudian mereka berdua mulai memasuki kamar kost 3*4 itu dan terdengar sangat berisik dan sibuk sekali.Tiga penghuni sekarang yang menempati kamar kost itu.Tak lama berselang waktu,tiba-tiba muncul lah satu pemuda lagi dengan membawa tas dengan bermimik riang gembira juga,di tambah senyumnya yang menawan dan mempesona bagai artis-artis india,tapi sayangnya kadang-kadang pemuda yang satu ini sering tidak terlihat entah kenapa.
Sudah terpenuhi lah kesepakatan yang mereka buat meskipun itu tidak tepat waktu (udah biasa sih).Kini kamar kost 3*4 itu berisikan 4 penghuni,dan seketika hancur lah kamar kost itu hanya dengan hitungan menit saja.Hancur seperti kapal jack sparrow.

Tak terasa waktu berputar begitu cepat dan waktu menunjukan pukul 6 sore.Satu per satu dari mereka mulai bergegas mengambil air wudlu dan langsung menunaikan ibadah sholat maghrib.Satu jam sudah berlalu,dan salah seorang dari mereka,tepatnya orang yang menyewa kamar di panggil oleh si pemilik kost.dan ternyata si pemilik kost meminta bayaran lebih kepada mereka,alasan nya sih untuk pengeluaran air yang bertambah.

Setelah agak lama di perbincangkan,mereka memutus kan untuk tidak membayar bayaran tambahan itu karena mereka tidak punya uang lebih untuk membayar biaya tak terduga itu.Hingga pada akhirnya mereka hanya di bolehkan untuk menginap satu malam saja dan itu artinya mereka harus terlantar di hari esok dan hari berikutnya,tapi itu tidak jadi masalah bagi mereka, mereka tetap berstu.

Di malam yang cerah ini,di bawah lampu bohlam berwarna kuning keemasan mereka semua membuka buku sekedar hanya berlatih untuk ujian besok dengan tujuan agar tidak terlalu sulit dan setidaknya ada yang nempel di kepala.Tapi itu tidak berlangsung lama,buku sudah tertutup kembali dan dimasukan kedalam tas masing-masing.Kebisingan lah yang terjadi kembali ditambah nyanyian-nyanyian sumbang lagu-lagu lawas yang di nyanyikan oleh mereka.Ratih Purwasih,itulah penyanyi lagu lawas yang di perkenalkan di kamar ini yang di perkenalkan oleh salah satu dari mereka (maklum anak-anak ccd).Sampai-sampai lagu itu menjadi sebuah lagu favorit bagi mereka.

Berbagai kegiatan dan aktifitas dilakukan di kamar 3*4 itu,ada yang membuat rokok,menyeduh kopi hangat,bermain gitar,hingga ada yang membersihkan kasur karena ulah si pembuat rokok yang bako nya tersebar kemana-mana.Meskipun begitu,mereka tetap bersama dan menimbulkan rasa soliaritas yang tinggi tanpa menghiraukan perbedaan.

''Mulek mulek mulek" itulah kata yang terlontarkan ketika beberapa puluh batang rokok sudah jadi di buat dan menimbulkan kabut yang sangat pekat di kamar kecil itui.Kabut yang menyebabkan batuk dan perih pada mata.

Kebersamaan mereka terus berlangsung,hingga pada akhirnya mereka terlelap dalam tidur dihiasi mimpi penuh pengharapan dan siap untuk menerjang segala kemungkinan,meskipun sebelumnya ribut dan rusuh memperebutkan posisi dan perlengkpan tidur.

Komentar

Postingan Populer